Memahami Dampak Gempa dan Tsunami di Sulteng Melalui Citra Satelit

0
34
Pantauan udara wilayah Balaroa yang hancur akibat gempa bumi, Palu, Sulawesi Tengah
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah berhasil mengidentifikasi kerusakan akibat gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018 di sebagian wilayah Sulawesi Tengah dengan menggunakan data citra satelit beresolusi tinggi. Data yang digunakan adalah data dari Satelit Pleiades milik Prancis tanggal 6 Juli 2018 atau sebelum gempa dan tanggal 30 September 2018 atau setelah gempa.
Berdasarkan dua data tersebut, teridentifikasi adanya sejumlah kerusakan parah akibat gempa, terutama di area Balaroa dan Petobo. Di dua wilayah tersebut terlihat rumah tidak hanya sekedar rusak, tapi juga amblas rata dengan tanah yang diduga karena fenomena likuifaksi atau pencairan tanah akibat gempa.
Perbandingan dua citra satelit multiwaktu tersebut juga memperlihatkan bahwa banyak bangunan di sepanjang Pantai Talise sampai Donggala yang mengalami kerusakan karena diterjang gelombang tsunami. Terlihat dari gambar hasil citra satelit di bawah ini bahwa tsunami telah menyebabkan perubahan garis pantai di sana.
Dengan menggunakan gambar-gambar citra satelit ini, LAPAN kemudian bekerja bersama dengan BNPB, ITB, dan Asian Institute of Technology (AIT) Thailand untuk menganalisis kerusakan akibat gempa dan menghitung berapa jumlah rumah dan bangunan lainnya yang rusak serta luas area yang amblas.
Dari hasil analisis ini diketahui, sebagaimana dikutip dari siaran pers LAPAN kepada kumparanSAINS, Rabu (3/10), kemungkinan ada lebih dari 5.000 bangunan rusak akibat gempa yang terjadi di Palu dan Donggala. Rincinya, melalui metode perhitungan interpretasi visual dengan cara membandingkan data citra satelit sebelum dan sesudah gempa, diketahui adanya 418 bangunan rusak di Kabupaten Donggala, dan 2.403 bangunan rusak di Kota Palu.
Selain itu, didapatkan juga adanya 315 bangunan yang kemungkinan rusak di Donggala dan 2.010 bangunan yang kemungkinan rusak di Palu. Pihak LAPAN menyatakan, kemungkinan jumlah bangunan yang rusak di Sulawesi Tengah pada Jumat pekan lalu akibat gempa dan tsunami bisa lebih banyak lagi karena belum seluruh wilayah dampak gempa terpotret oleh citra satelit.
Kerusakan di wilayah Perumnas Balaroa yang ramai diberitakan oleh berbagai media juga sudah terhitung melalui analisis citra satelit ini. Diketahui, dari total 5.146 bangunan rusak yang terdata di Sulteng, 1.045 bangunan di antaranya terdapat di perumahan tersebut. Terhitung, luas area Perumnas Balaroa yang amblas adalah sekitar 47,8 hektare.
Jumlah korban
Data dari citra satelit ini memang tidak digunakan untuk menghitung jumlah korban tewas. Namun hanya digunakan untuk menghitung luas area yang terdampak gempa dan tsunami di Sulteng serta jumlah bangunan di sana yang mengalami kerusakan.
Akan tetapi, dengan mengetahui lokasi dan area mana saja yang terdampak, maka data satelit ini dapat digunakan sebagai petunjuk untuk melakukan mitigasi bencana dan evakuasi korban bencana tersebut.
Laporan terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, hingga Rabu (3/10) ini ditemukan ada 1.407 orang meninggal dunia, 2.549 orang mengalami luka berat, dan 113 orang dinyatakan hilang.
Jumlah korban bisa terus bertambah, mengingat banyaknya jumlah bangunan atau rumah di sana yang rusak.
Misalnya saja kita asumsikan bahwa dalam setiap rumah atau bangunan yang rusak itu setidaknya ada satu keluarga beranggotakan empat orang yang tinggal di dalamnya. Maka dari jumlah 5.146 bangunan rusak yang tersebut, yang kemudian kemudian dikalikan dengan empat orang, terhitunglah ada 20.584 orang yang terdampak oleh gempa dan tsunami tersebut.
Dari asumsi 20.584 orang, tentunya ada sebagian besar yang berhasil menyelamatkan diri, sebagian menjadi korban luka-luka, dan sebagiannya menjadi korban tewas.
Bagaimanapun, saat ini BNPB, bekerja sama dengan berbagai pihak, masih terus berupaya mengevakuasi korban, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal.
Facebook Comments